https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/issue/feedJurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan2026-04-07T14:35:28+00:00Aria Gustieditor.jk3l@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) adalah Jurnal ilmiah yang didirikan dan dikelola oleh Bagian Keselamatan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3/Kesling), Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas sejak tahun 2020. Jurnal JK3L terbit 3 (tiga) kali dalam setahun pada bulan April , Agustus dan Desember (<a href="https://issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1489655469&1&&">e-ISSN: 2776-4133</a>) dan telah terakreditasi <strong>SINTA 3</strong> sejak volume 05 No. 2 sesuai SK Kemendikburistek Nomor 295/C/C3/KPT/2026.</p> <p>Sesuai namanya, Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) menerima naskah dalam tema umum :</p> <ol> <li>Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)</li> <li>Kesehatan Lingkungan</li> <li>Epidemiologi Lingkungan</li> <li>Epidemiologi Kesehatan Kerja</li> </ol> <p>Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi redaksi jurnal via email ke:</p> <p><strong>editor.jk3l@gmail.com</strong></p>https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/498Efektivitas Media Edukasi Berbasis Cerita dalam Mengurangi Praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS): Suatu Systematic Literature Review2026-01-05T08:05:37+00:00Indrayadi Indrayadiketikindrayadi@gmail.comAhmad Rasyid Ridha RamadhanRasyid.ramadhan02@gmail.comYuhansyah Yuhansyahemaildirektur@gmail.comNazwa Natasyanazwanatasha27@gmail.com<p>Upaya pengurangan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) menuntut strategi edukasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menyentuh aspek kognitif, emosional, dan budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan melakukan <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis temuan-temuan ilmiah terkait efektivitas media edukasi berbasis cerita budaya dalam mengurangi praktik BABS. Penelitian ini menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan sintesis kualitatif (narrative dan thematic synthesis) guna mengkaji secara sistematis temuan-temuan empiris mengenai efektivitas media edukasi berbasis cerita dalam upaya mengurangi praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang terindeks pada DOAJ, Scopus, dan Google Scholar, dengan rentang tahun terbit 2019–2025. Hasil sintesis menunjukkan bahwa intervensi edukasi sanitasi berbasis cerita efektif dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat. Efektivitas tersebut meningkat ketika media yang digunakan sesuai dengan konteks budaya lokal, memiliki unsur naratif yang kuat, dan disampaikan oleh fasilitator kompeten. Mekanisme kognitif–emosional seperti <em>narrative transportation</em>, identifikasi tokoh, dan keterlibatan aktif peserta juga memperdalam internalisasi pesan sanitasi. Efektivitas intervensi tetap dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti rendahnya literasi, ketidaksesuaian konteks sosial, kurangnya pendampingan lanjutan, serta keterbatasan fasilitas sanitasi. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas narasi perlu ditopang oleh ekosistem sosial dan infrastruktur yang memadai agar perubahan perilaku dapat berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan.</p>2026-01-17T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Indrayadi Indrayadi, Ahmad Rasyid Ridha Ramadhan, Yuhansyah Yuhansyah, Nazwa Natasyahttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/519Faktor Determinan Tekanan Darah pada Pekerja Bagian Produksi PT XY Plant Jakarta2026-01-13T04:30:09+00:00Putu Gede Oka Mahendraputugedeokamahendra@gmail.comNovie Elvinawaty Maulikuputugedeokamahendra@gmail.comSuhat Suhatputugedeokamahendra@gmail.comAgus Riyantoputugedeokamahendra@gmail.comArif Susantoputugedeokamahendra@gmail.com<p>Tekanan darah tinggi menjadi faktor risiko penting penyakit kardiovaskular yang berdampak pada produktivitas pekerja. Pekerja bagian produksi PT XY <em>Plant</em> Jakarta memiliki karakteristik pekerjaan statis, repetitif, berorientasi target, serta sistem kerja <em>Shift</em> yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan tekanan darah, sehingga perlu dilakukan kajian khusus. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan yang berhubungan dengan tekanan darah pada pekerja bagian produksi di PT XY <em>Plant </em>Jakarta. Penelitian ini menerapkan desain kuantitatif dengan pendekatan <em>cross sectional</em> pada 81 pekerja bagian produksi melalui <em>total sampling</em>. Data dianalisis menggunakan uji korelasi <em>pearson</em>, korelasi <em>spearman</em>, <em>t-test</em>, <em>ANOVA</em>, serta regresi linier berganda untuk menentukan faktor dominan. Ada hubungan signifikan antara usia (<em>p = 0,0001), jenis kelamin (p-value = 0,003), </em>status gizi (<em>p-value = 0,0001</em>), durasi tidur (<em>p=</em>0,0001), masa kerja (<em>p=</em>0,0001), dan beban kerja fisik (<em>p=</em>0,0001) dengan tekanan darah. Analisis regresi linier berganda mengidentifikasi bahwa durasi tidur (B=-8,993), status gizi (B=0,600), dan masa kerja (B=0,562) merupakan faktor dominan yang mempengaruhi terhadap tekanan darah setelah dikontrol oleh variabel lainnya, dengan durasi tidur sebagai faktor yang paling berpengaruh. Durasi tidur merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi tekanan darah pekerja, di mana kurang tidur berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Oleh sebab itu, diperlukan pengaturan waktu kerja dan istirahat yang lebih optimal serta edukasi pentingnya tidur cukup dan gaya hidup sehat untuk menjaga tekanan darah dan produktivitas pekerja</p>2026-01-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Putu Gede Oka Mahendra, Novie Elvinawaty Mauliku, Suhat Suhat, Agus Riyanto, Arif Susantohttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/545Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Menggunakan Metode HIRADC Pada Ruangan di FTTK UMRAH Tanjungpinang2026-02-03T19:12:28+00:00Shyntia Fifa Caroline Sianipar2401050021@student.umrah.ac.idAhmad Rusdiahmadrusdi@umrah.ac.idAdelia Putri Angelika2401050027@student.umrah.ac.idChintya Ayu Dewi2401050014@student.umrah.ac.idSyahida Bilqis Bahiroh2401050019@student.umrah.ac.idDeco Brosky2401050012@student.umrah.ac.id<p>Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja dan belajar yang aman di perguruan tinggi, khususnya pada ruang-ruang dengan aktivitas teknis dan non-teknis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, serta menentukan pengendalian risiko K3 pada beberapa ruang di Fakultas Teknik dan Teknologi Kemaritiman (FTTK) Universitas Maritim Raja Ali Haji, meliputi Workshop CNC, Ruang HIMA dan BEM, serta Ruang Komunitas Robotika. Metode yang digunakan adalah <em>Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control</em> (HIRADC) dengan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan, wawancara, pengukuran faktor fisik lingkungan kerja, serta penilaian risiko berdasarkan parameter <em>severity</em>, <em>exposure</em>, dan <em>probability</em>. Hasil penelitian mengidentifikasi 9 potensi bahaya dengan nilai risiko awal berada pada rentang 4–27, di mana sebagian besar aktivitas berada pada kategori risiko <em>acceptable</em>, namun dua aktivitas di Ruang Robotika termasuk kategori <em>priority<strong> 3</strong></em> yang menunjukkan risiko tingkat menengah hingga tinggi sehingga memerlukan pengendalian sebelum aktivitas dilanjutkan. Setelah pengendalian administratif dan rekayasa teknis diterapkan, seluruh risiko residual berada pada kategori <em>acceptable</em>. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode HIRADC efektif digunakan sebagai dasar pengelolaan K3 yang sistematis di lingkungan kampus.</p>2026-02-11T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Shyntia Fifa Caroline Sianipar, Ahmad Rusdi, Adelia Putri Angelika, Chintya Ayu Dewi, Syahida Bilqis Bahiroh, Deco Brosky6 https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/535Paparan Kerja Berbasis Shift sebagai Determinan Tekanan Darah di Lingkungan Kerja Manufaktur: Studi Potong Lintang pada Pekerja Industri Bahan Plafon2026-02-02T01:36:44+00:00Nurbaiti Nurbaitinurbaitimkm3@gmail.com<p>Kerja shift, khususnya shift malam atau shift rotasi, merupakan sistem kerja yang umum diterapkan pada industri manufaktur untuk menjaga keberlangsungan proses produksi. Namun, pola kerja ini berpotensi mengganggu ritme sirkadian tubuh dan memengaruhi regulasi tekanan darah melalui perubahan hormonal serta disfungsi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kerja shift dan kejadian hipertensi pada pekerja industri pembuatan bahan plafon. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel terdiri dari 49 pekerja yang masuk kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik <em>accidental sampling</em>. Data dianalisis menggunakan uji <em>chi-square</em> untuk mengetahui hubungan antara kerja shift dan kejadian hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kerja shift dan kejadian hipertensi (p = 0,000). Proporsi hipertensi pada pekerja dengan paparan shift berisiko tinggi mencapai 80% (12 dari 15 responden), sedangkan pada kelompok shift berisiko rendah sebesar 20,6% (7 dari 34 responden). Temuan ini menunjukkan bahwa pekerja dengan paparan shift berisiko tinggi memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami hipertensi dibandingkan pekerja dengan risiko shift rendah. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kerja shift berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui pengaturan pola shift kerja serta peningkatan edukasi kesehatan dan keselamatan kerja</p>2026-02-12T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Nurbaiti Nurbaitihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/521Penilaian Risiko Total Suspended Particulate (TSP) pada Pekerja Produksi di PT Wijaya Karya Beton Tbk Pasuruan2026-01-13T11:05:20+00:00Azmiy Ihsany Bahriazmiy.ihsany.bahri-2022@fkm.unair.ac.idEndang Dwiyantiazmiy.ihsany.bahri-2022@fkm.unair.ac.idFaisal Al Farisiazmiy.ihsany.bahri-2022@fkm.unair.ac.id<p>Industri konstruksi merupakan sektor padat karya dengan potensi paparan debu tinggi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pernapasan pada pekerja. Data pengukuran lingkungan kerja di PT Wijaya Karya Beton Tbk Pasuruan menunjukkan adanya variasi konsentrasi debu total (<em>Total Suspended Particulate/TSP</em>) pada beberapa jalur produksi, dengan nilai tertinggi mencapai 1 mg/m³ di ruang produksi. Kondisi ini berpotensi melampaui nilai referensi risiko kesehatan dan memerlukan kajian kuantitatif untuk mengetahui tingkat risikonya. Penelitian ini bertujuan menilai risiko paparan TSP terhadap pekerja produksi menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2025 dengan menggunakan data sekunder hasil pengukuran konsentrasi TSP pada beberapa area kerja, yang selanjutnya dihitung nilai <em>Intake</em> dan <em>Risk Quotient</em> (<em>RQ</em>). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Ruang Produksi Jalur 4 dengan konsentrasi <em>TSP</em> 1 mg/m³, nilai <em>intake</em> sebesar 0,0826 mg/kg/hari dengan RQ 4,13 (>1), menandakan potensi gangguan kesehatan. Sedangkan, pada area <em>Wire Cagging</em> Jalur 1-2 dan Jalur 6 dengan konsentrasi <em>TSP</em> 0,02 mg/m³, nilai <em>RQ</em> 0,08 (<1), masih dalam kategori aman. Upaya pengendalian risiko meliputi penerapan ventilasi mekanis sesuai SNI 03-6572-2001 pada area tertutup, <em>housekeeping</em>, pemantauan berkala, dan penggunaan alat pelindung diri.</p>2026-02-27T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Azmiy Ihsany Bahri, Endang Dwiyanti, Faisal Al Farisihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/541Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Pendengaran pada Pekerja Operator PT. X di Kota Bontang2026-02-05T04:58:11+00:00Tsabita Radhiya Dzakiratsabitaradhiyadz@gmail.comMuhammad Sultantsabitaradhiyadz@gmail.comIda Ayu Indira Dwika Lestaritsabitaradhiyadz@gmail.comIwan Muhamad Ramdantsabitaradhiyadz@gmail.comDewi Novita Hardiantitsabitaradhiyadz@gmail.com<p><em>Noise in the workplace is a major risk factor that can cause hearing loss, especially in the oil and gas industry, which has high noise exposure. Long-term exposure to noise above the Threshold Limit Value (TLV) can cause permanent Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Based on observations at PT. X, Bontang City, several areas showed noise levels above 85 dBA, potentially causing hearing impairment among workers. This study aims to determine the relationship between noise levels, length of service, use of hearing protection devices (HPDs), and noisy hobbies or activities with hearing loss among operators at PT. X in Bontang City. The study used a cross-sectional design with a quantitative approach. Data were obtained through noise measurements, questionnaires, and audiometric examination results. Analysis was performed using Spearman's Rank Correlation test to assess the relationship between variables. The results of the study show a significant relationship between noise levels (p=0.000, r=0.951), the use of hearing protection devices (p=0.000, r=- 0.645), and noisy hobbies or activities (p=0.006, r=0.398) with hearing impairment (p<0.05). However, the variable of length of service did not show a significant relationship (p=0.055, r=0.282). It can be concluded that noise levels, the use of hearing protection devices (HPDs), and noisy hobbies or activities are associated with hearing loss, while length of service is not. It is recommended that companies conduct regular audiometric examinations at least twice a year, create Noise Contour Maps on a routine basis, and update noise warning signs in the workplace. The selection of comfortable EPP and education regarding the use of high-risk earphones are also necessary to prevent hearing loss and increase workers' awareness of the dangers of noise.</em></p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Tsabita Radhiya Dzakira, Muhammad Sultan, Ida Ayu Indira Dwika Lestari, Iwan Muhamad Ramdan, Dewi Novita Hardiantihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/554Gambaran Kesehatan Mental pada Pekerja Industri Minyak dan Gas (MIGAS) di PT K Indonesia 2026-02-26T02:28:14+00:00Ramadhania Putridhaniapu@gmail.comArif Susantoarif@htp.ac.idJasrida Yunitajasridayunita@htp.ac.id<p>Kesehatan mental merupakan bagian integral dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama pada industri berisiko tinggi seperti minyak dan gas (migas). Tekanan operasional, tuntutan keselamatan, dan pola kerja tidak teratur berpotensi meningkatkan risiko gangguan psikologis pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada pekerja industri migas di PT K Indonesia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan potong lintang <em>(cross-sectional)</em>. Sebanyak 226 pekerja berpartisipasi sebagai responden dan data dikumpulkan menggunakan instrumen <em>Depression Anxiety Stress Scale</em> versi 21 (DASS-21). Analisis data dilakukan secara univariat dan komparatif menggunakan uji non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori normal pada seluruh dimensi, namun masih terdapat proporsi pekerja dengan gejala depresi (10,6%), kecemasan (20,4%), dan stres (10,6%) pada tingkat ringan hingga sangat berat. Kecemasan merupakan dimensi dengan proporsi tertinggi. Tidak ditemukan perbedaan signifikan skor depresi, kecemasan, dan stres berdasarkan umur, jenis kelamin, masa kerja, maupun jabatan. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi manajemen risiko psikososial dalam sistem K3 industri migas melalui skrining berkala dan intervensi preventif berbasis organisasi.</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ramadhania Putri, Arif Susanto, Jasrida Yunitahttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/562Risiko Kesehatan Lingkungan pada Pedagang dan Pengunjung Pasar Tradisional: A Systematic Review2026-03-02T03:22:08+00:00Aria Gustiariagusti@ph.unand.ac.id<p>Pasar tradisional merupakan lingkungan kerja informal dan ruang publik yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan lingkungan bagi pedagang dan pengunjung akibat sanitasi yang belum optimal, kepadatan aktivitas, dan kedekatan dengan sumber emisi kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai risiko biologis, kimia, dan partikulat di pasar tradisional serta mengidentifikasi implikasinya terhadap kebijakan pasar sehat. Penelitian menggunakan desain <em>Systematic Literature Review</em> mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada basis data internasional dan nasional periode 2010–2025 dengan kriteria inklusi studi yang mengevaluasi paparan lingkungan dan melaporkan parameter risiko seperti <em>hazard quotient</em> atau estimasi risiko karsinogenik. Hasil menunjukkan bahwa sanitasi pasar yang tidak memenuhi standar meningkatkan kontaminasi mikrobiologis pada air, limbah, dan udara. Risiko bersifat kontekstual dan bervariasi secara spasial berdasarkan ventilasi dan kepadatan lalu lintas. Literatur juga menunjukkan fragmentasi pendekatan risiko dan belum adanya sintesis multi-hazard terpadu. Kebaruan studi ini terletak pada integrasi multi-hazard health risk assessment dalam konteks pasar tradisional. <span lang="IN" style="font-size: 11.0pt;">Penelitian ini berkontribusi pada penguatan kebijakan pasar sehat berbasis <em>cumulative risk assessment</em> dan harmonisasi metodologi penilaian risiko kesehatan lingkungan.</span></p>2026-03-06T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Aria Gustihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/583Perbandingan Penurunan Konsentrasi Mangan dalam Larutan Aqueous menggunakan Limbah Kulit Nangka dan Kulit Jengkol 2026-04-03T08:06:17+00:00Trisfa Augiatrisfaaugia@gmail.comDendi Adi Saputradendiadisaputra@gmail.comAliffa Oktanofrida Hadealiffahade@gmail.com<p>Pencemaran mangan (Mn) dalam air dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan metode pengolahan yang efektif dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemampuan limbah kulit nangka dan kulit jengkol dalam menurunkan konsentrasi mangan terlarut dalam larutan <em>aqueous. </em>Percobaan dilakukan dengan menambahkan 1 g biomassa ke dalam larutan MnSO<sub>4 </sub>artifisial, selama 30 menit kemudian difiltrasi untuk memperoleh fraksi mangan terlarut. Variasi perlakuan meliputi arang kulit jengkol tanpa aktivasi, pelet kulit nangka, serbuk kulit nangka (100 mesh), biochar kulit nangka, serta <em>manganese greensand</em> sebagai pembanding. Konsentrasi Mn dianalisis menggunakan metode spektrofotometri serapan atom, dan data diuji secara statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan arang kulit jengkol menurunkan konsentrasi Mn sebesar 4,81%. Serbuk kulit nangka dan biochar kulit nangka menunjukkan efisiensi penurunan tertinggi, masing-masing sebesar 65,4% dan 69,1%. Terdapat perbedaan signifikan antara perlakuan menggunakan kulit jengkol dan kulit nangka. Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan antara serbuk kulit nangka dan biochar. Perlakuan lainnya tidak berbeda signifikan terhadap kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa limbah kulit nangka berpotensi sebagai bahan adsorben yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk pengolahan air tercemar mangan. Ukuran partikel dan luas permukaan biomassa berperan penting dalam penurunan mangan terlarut.</p>2026-04-13T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Trisfa Augia, Dendi Adi Saputra, Aliffa Oktanofrida Hadehttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/585- Potential Health Risks From Mercury (Hg) Exposure Through Rice Consumption In The Sijunjung Gold Mining Area, West Sumatera2026-04-07T14:35:28+00:00Randy Novirsarandynovirsa@ph.unand.ac.idAldifa Taufiqurrahmanaldifa.taufiqurrahman@gmail.comSeptia Pristi Rahmahpristia.rahmah@gmail.comFadilla Azmifadillaazmi@gmail.com<p>Accumulation of mercury (Hg) in food crops can pose serious health risks to humans. In Indonesia, the population may be exposed to mercury through rice consumption, a staple food cultivated in areas surrounding gold mining sites. This study aimed to estimate the health risk associated with mercury exposure through rice consumption among communities living near gold mining areas in Sijunjung Regency, West Sumatra, Indonesia. The study was conducted in artisanal and small-scale gold mining (ASGM) areas using a public health risk assessment approach, determining the risk quotient (RQ) by comparing estimated daily intake (EDI) with the reference dose (RfD) to evaluate real-time and lifetime risk levels. Rice (n = 6) and water (n = 6) samples were collected from paddy fields located near the mining areas, along with one market rice sample (n = 1) as a comparison. A total of 103 adult respondents were included in this study. Data were collected through structured interviews using a standardized questionnaire that assessed consumption habits and lifestyle patterns, including body weight. The results showed that the mean total mercury (T-Hg) concentration in rice from ASGM areas ranged from 0.0087 to 0.01 mg/kg. Exposure assessment indicated that the community was exposed to mercury at levels of 0.053 to 0.23 ug/kg/day through rice consumption. The risk quotient (RQ) values indicated a relatively low risk level based on the analyzed rice consumption pathway. In conclusion, mercury intake from rice consumption in communities around gold mining areas in Sijunjung Regency remains within a tolerable daily intake level. However, potential exposure through other pathways, such as inhalation and consumption of other food sources, warrants further investigation.</p>2026-04-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Randy Novirsa, Aldifa, Septia Pristi Rahmah, Fadilla