https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/issue/feedJurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan2026-07-11T01:03:52+00:00Editor in chiefeic.jk3l@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) adalah Jurnal ilmiah yang didirikan dan dikelola oleh Bagian Keselamatan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3/Kesling), Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas sejak tahun 2020. Jurnal JK3L terbit 3 (tiga) kali dalam setahun pada bulan April , Agustus dan Desember (<a href="https://issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1489655469&1&&">e-ISSN: 2776-4133</a>) dan telah terakreditasi <strong>SINTA 3</strong> sejak volume 05 No. 2 sesuai SK Kemendikburistek Nomor 295/C/C3/KPT/2026.</p> <p>Sesuai namanya, Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) menerima naskah dalam tema umum :</p> <ol> <li>Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)</li> <li>Kesehatan Lingkungan</li> <li>Epidemiologi Lingkungan</li> <li>Epidemiologi Kesehatan Kerja</li> </ol> <p>Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi redaksi jurnal via email ke:</p> <p><strong>editor.jk3l@gmail.com</strong></p>https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/591Analisis Pajanan PM10 dan PM2,5 terhadap Gangguan Pernapasan pada Pekerja Sektor Informal Industri Tahu di Kelurahan Selili 2026-04-27T07:07:37+00:00Alfina Rahma Adilaalfinaradil72@gmail.comAyudhia Rachmawatirachmawatiayudhia@fkm.unmul.ac.idMasithah Masithahmasithah40@fkm.unmul.ac.idVivi Filia Elviravivifiliaelvira@fkm.unmul.ac.idSyamsir Syamsirsyamsir.abukholid@fkm.unmul.ac.id<p>Industri tahu sektor informal yang menggunakan bahan bakar kayu berpotensi menghasilkan partikulat PM<sub>10</sub> dan PM<sub>2,5 </sub>dalam konsentrasi tinggi di lingkungan kerja. Kondisi ini menurunkan kualitas udara pada ruang produksi semi-<em>indoor</em> sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pajanan PM<sub>10</sub> dan PM<sub>2,5 </sub>terhadap gangguan pernapasan pada pekerja industri tahu di Kelurahan Selili. Metode yang digunakan adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) melalui pengukuran konsentrasi <em>particulate matter</em> menggunakan alat <em>Dust Detector</em>, serta wawancara menggunakan kuesioner <em>St. George’s Respiratory Questionnaire</em> (SGRQ) untuk menilai gangguan pernapasan. Selain itu, dilakukan perhitungan <em>intake</em>, Risk Quotient (RQ), dan analisis manajemen risiko. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM<sub>10 </sub>sebesar 1,054 mg/m³ dan PM<sub>2,5 </sub>sebesar 0,333 mg/m³ pada 21 titik. Seluruh responden memiliki nilai RQ > 1 dengan rata-rata RQ PM<sub>10</sub> sebesar 9,190 dan PM<sub>2,5</sub> sebesar 2,258, yang menunjukkan pajanan melebihi batas aman. Kesimpulan penelitian ini adalah pajanan PM<sub>10</sub> dan PM<sub>2,5 </sub>berada pada tingkat berisiko dan berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan. Disarankan pengendalian melalui penambahan ventilasi (<em>exhaust fan</em>), penggunaan masker N95, serta bahan bakar lebih ramah lingkungan, disertai edukasi dan pengawasan rutin untuk meningkatkan keselamatan kerja.</p>2026-05-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Alfina Rahma Adila, Ayudhia Rachmawati, Masithah Masithah, Vivi Filia Elvira, Syamsir Syamsirhttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/601Crowded Housing and Urban Residence as Risk Factors for Under-Five Children’s Pneumonia in Indonesia: Analysis of SSGI 2024 Data2026-05-07T06:00:19+00:00Fadilah Yuma Zaharafadilahyz03@gmail.comDefriman Djafridefrimandjafri@ph.unand.ac.idAria Gustiariagusti@ph.unand.ac.id<p>Pneumonia remains the leading cause of morbidity and mortality among under-five children in Indonesia, with cases tending to increase each year. This study aimed to examine the association between crowded housing, cooking fuel type, nutritional status, sex, and classification of residence with the incidence of under-five children in Indonesia. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey. The sample included 201,017 children aged 12-59 months. Bivariate analysis was performed using the chi-square test. The bivariate analysis of five variables showed that crowded housing (p=0.008; POR=1.273) and urban residence (p<0.001; POR=1.918) were significant risk factors for under-five children’s pneumonia. Meanwhile, sex (p=0.412), nutritional status (p=0.216), and cooking fuel type (p=0.290) did not show statistically significant associations. Crowded housing conditions and living in urban areas are significant risk factors for pneumonia in children under five in Indonesia. Public health interventions should prioritize improving household ventilation, reducing indoor crowding, and developing targeted pneumonia prevention programs in urban areas.</p>2026-05-21T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Fadilah Yuma Zahara, Defriman Djafri, Aria Gustihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/613Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan CO2 Pada Pekerja TPAS Manggar Kota Balikpapan2026-05-20T23:49:31+00:00Vivi Filia Elviravivifiliaelvira@fkm.unmul.ac.idMorrin Choirunnisa Thohiramorrinchoirunnisa@fkm.unmul.ac.idAyudhia Rachmawatirachmawatiayudhia@fkm.unmul.ac.idMuhammad Aidil Fitrahaidilfirah@fkm.unmul.ac.idSyamsir Syamsirsyamsir.abukholid@fkm.unmul.ac.idAkhmad Dzikriakhmaddzikri@fkm.unmul.ac.id<p>Paparan karbon dioksida (CO<sub>2</sub>) di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) berpotensi menimbulkan gangguan fisiologis pada pekerja akibat akumulasi gas dari dekomposisi sampah organik. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kesehatan lingkungan akibat paparan CO<sub>2</sub> pada pekerja TPAS Manggar, Kota Balikpapan, menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian analitik observasional ini melibatkan 40 pekerja. Konsentrasi CO<sub>2</sub> diukur menggunakan metode <em>direct reading/real-time monitoring</em>, disertai pengukuran faktor meteorologis dan respons fisiologis pekerja. Analisis risiko dilakukan melalui perhitungan <em>Risk Quotient</em> (RQ), sedangkan hubungan kategori intake dengan temperatur, frekuensi napas, kadar oksigen, dan denyut jantung dianalisis menggunakan uji chi-square dan <em>independent t-test</em>. Hasil menunjukkan konsentrasi CO<sub>2</sub> meningkat dari 380 ppm menjadi 430 ppm pada kondisi kecepatan angin rendah (1,94 m/s), suhu 29–31°C, dan kelembaban tinggi (75–85%). Nilai RQ <em>real-time</em> (0,076), 10 tahun (0,426), dan 20 tahun (0,776) masih berada pada kategori aman (RQ<1), sedangkan RQ 30 tahun (1,126) menunjukkan potensi risiko kesehatan non-karsinogenik akibat paparan jangka panjang. Frekuensi napas memiliki hubungan bermakna dengan kategori intake. Paparan CO<sub>2</sub> di TPAS Manggar berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang sehingga diperlukan pemantauan kualitas udara, penggunaan APD, pengaturan waktu kerja, dan edukasi kesehatan kerja.</p>2026-05-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Vivi Filia Elvira, Morrin Choirunnisa Thohira, Ayudhia Rachmawati, Muhammad Aidil Fitrah, Syamsir Syamsir, Akhmad Dzikrihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/604Hubungan Intensitas Kebisingan, Lama Paparan, Umur, dan Kecukupan Tidur Malam terhadap Tekanan Darah Tenaga Kerja Bagian Produksi Kantung Plastik di PT. X Kabupaten Sidoarjo2026-05-15T03:05:47+00:00Iga Putri Auliaigaputriaulia33@gmail.comWinarko Winarkoigaputriaulia33@gmail.comNarwati Narwatiigaputriaulia33@gmail.com<p>Kebisingan di lingkungan kerja yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dBA berpotensi meningkatkan tekanan darah tenaga kerja. Faktor lain yang turut memengaruhi meliputi lama paparan, umur, dan kecukupan tidur malam. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan intensitas kebisingan, lama paparan, umur, dan kecukupan tidur malam terhadap tekanan darah tenaga kerja bagian produksi kantung plastik di PT. X. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>Cross-Sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 49 responden yang dipilih menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pencatatan data tenaga kerja, menggunakan <em>Sound Level Meter</em>, serta pengukuran tekanan darah menggunakan <em>Sphygmomanometer </em>atau tensimeter jarum dan stetoskop sebelum dan sesudah bekerja. Hasil uji <em>Korelasi Spearman</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas kebisingan (p=0,002; r=0,436) korelasi positif cukup, lama paparan (p=0,020; r=0,330) korelasi positif cukup, umur (p=0,000; r=0,548) korelasi positif cukup, serta kecukupan tidur malam (p=0,002; r=0,428) korelasi positif cukup dengan tekanan darah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intensitas kebisingan, lama paparan, umur, dan kecukupan tidur malam memiliki hubungan dengan tekanan darah tenaga kerja, dengan umur sebagai variabel yang memiliki hubungan paling kuat terhadap tekanan darah.</p>2026-06-02T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Iga Putri Aulia, Winarko Winarko, Narwati Narwatihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/645Pemetaan Faktor Risiko Lingkungan dengan Teknik Overlay pada Penyakit Kusta di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2020-20242026-05-29T04:25:27+00:00Syahkila Ayurin Amaliasyahkila.kila@gmail.comYudi Pradiptayudipradipta@ph.unand.ac.idElsi Novnarizaelsinovnariza@ph.unand.ac.id<p>Sebaran kasus kusta di Provinsi Sumatera Barat belum mencapai status eradikasi dengan kasus baru masih ditemukan setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat persebaran spasial kasus kusta di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2020-2024 serta keterkaitannya dengan faktor risiko lingkungan. Studi ini menggunakan desain ekologi dengan memanfaatkan data sekunder yang dilakukan pada Juni-Oktober 2025. Data terkait penyakit kusta diperoleh dari Dinas Kesehatan dan data terkait faktor lingkungan diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Analisis data berupa pemetaan tematik dan <em>overlay </em>menggunakan <em>software</em> QGIS. Sebaran kasus kusta di Provinsi Sumatera Barat selama 2020-2024 bersifat fluktuatif dan tidak merata, dengan beberapa wilayah seperti Kabupaten Padang Pariaman, Pasaman Barat, Pasaman, Lima Puluh Kota, dan Kota Pariaman secara konsisten berada pada wilayah prioritas. Sanitasi dan akses air minum menjadi aspek yang mencerminkan kondisi lingkungan dan menjadi perhatian pada risiko penularan kusta, di mana daerah dengan sanitasi buruk dan air minum tidak layak memiliki kecenderungan memiliki kasus kusta yang lebih tinggi. Pengendalian kusta memerlukan pendekatan terpadu multisektoral yang fokus pada peningkatan sanitasi, penyediaan air bersih, dan penyehatan lingkungan, khususnya di wilayah prioritas untuk percepatan eradikasi kusta.</p>2026-06-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Syahkila Ayurin Amalia, Yudi Pradipta, Elsi Novnarizahttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/642Pemetaan Zona Risiko dan Distribusi Wildlife Hazard pada Area Airside di Bandara Internasional Minangkabau2026-05-29T04:22:13+00:00Muhammad Raghib Atha Maulanafriskaeka@ph.unand.ac.idFriska Eka Fitriafriskaeka@ph.unand.ac.idFitriyani Fitriyanifriskaeka@ph.unand.ac.id<p>Keberadaan satwa liar di area <em>airside</em> berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Kondisi lingkungan sekitar Bandara Internasional Minangkabau seperti hutan, rawa-rawa, dan garis pantai mendukung aktivitas satwa liar sehingga diperlukan pemetaan zona risiko <em>wildlife hazard</em> pada area <em>airside</em>. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomologi yang dilaksanakan pada September 2025 - Februari 2026. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen terhadap 7 informan yang dipilih secara <em>purposive</em>. Analisis dilakukan berdasarkan distribusi satwa liar, karakteristik lingkungan, dan frekuensi kemunculan <em>wildlife hazard</em> pada setiap zona area <em>airside</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi <em>wildlife hazard</em> pada area <em>airside</em> tidak tersebar merata. Zona B sekitar <em>middle marker</em> (4 MM) <em>Runway</em> 33 menjadi area dengan tingkat kemunculan satwa tertinggi akibat kondisi lingkungan yang mendukung aktivitas satwa liar. Satwa dominan yang ditemukan berupa burung serta satwa darat seperti babi dan anjing yang berpotensi menimbulkan <em>bird strike</em> dan <em>runway incursion</em>. Karakteristik lingkungan memengaruhi distribusi <em>wildlife hazard</em> pada area <em>airside</em> BIM. Zona B menjadi area prioritas pengendalian karena memiliki tingkat kemunculan <em>wildlife hazard</em> tertinggi. Pengendalian berbasis zona risiko melalui monitoring rutin, pengelolaan lingkungan, dan pengawasan area perimeter perlu ditingkatkan untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap keselamatan penerbangan.</p>2026-06-26T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Muhammad Raghib Atha Maulana, Friska Eka Fitria, Fitriyani Fitriyanihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/627Rancang Bangun Prototipe Sistem Early Reporting Keluhan Kesehatan Berbasis QR Code sebagai Upaya Digitalisasi Surveilans K3 pada Industri Manufaktur Pangan2026-05-23T07:41:30+00:00Aina Salsabilaaina.salsabila.2306126@students.um.ac.id<p class="font-claude-response-body" style="margin: 0cm; text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;">Sistem pelaporan keluhan kesehatan pekerja di PT. X masih menggunakan metode konvensional (lisan dan kertas), menyebabkan inefisiensi rekapitulasi data K3 dan keterlambatan koordinasi medis. Penelitian ini merancang prototipe sistem <em>Early Reporting</em> berbasis QR Code sebagai inovasi digitalisasi surveilans K3 di industri manufaktur pangan. Metode yang digunakan adalah <em>Research and Development</em> (R&D) dengan model ADDIE. Instrumen berupa <em>web-form</em> terintegrasi <em>cloud database</em> telah divalidasi oleh praktisi EHS. Uji coba melibatkan 111 pekerja operasional melalui <em>purposive sampling</em> dengan pendekatan <em>assisted user testing</em>. Hasil menunjukkan tingkat keberhasilan akses 100%, dengan 77,5% pekerja melaporkan kondisi sehat (<em>Fit to Work</em>) dan 22,5% melaporkan keluhan dini. Sistem terbukti efisien dengan waktu pengisian kurang dari 2 menit per pekerja dan mampu mempercepat alur penanganan medis menjadi di bawah 15 menit. Kendala minor berupa keharusan <em>login</em> akun dinilai krusial untuk menjaga kerahasiaan dan validitas data. Sistem <em>Early Reporting</em> ini layak dan efektif dalam memfasilitasi <em>real-time monitoring</em> serta mendorong budaya <em>participatory ergonomics</em> demi terwujudnya manajemen K3 yang preventif.</span></p>2026-07-02T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Aina Salsabilahttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/684Determinan Kejadian ISPA pada Balita di Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi: Analisis Data SKI 20232026-07-04T01:36:33+00:00Sherly Febria Utamisherlyfebriautami27@gmail.comAria Gustiariagusti@ph.unand.ac.idRatno Widoyosherlyfebriautami27@gmail.com<p>Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita dan tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu balita, perilaku rumah tangga, dan faktor lingkungan rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Jambi berdasarkan analisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Studi ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em>, menggunakan data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 sebanyak 5.728 anak usia 12-59 bulan. Analisis data bivariat menggunakan uji <em>chi-square</em>. Hasil analisis bivariat dari 13 variabel menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki (p=0,029; POR=1,246) dan merokok di rumah (p=0,013; POR=1,307) berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Sementara itu, variabel usia (p=0,868), status gizi (p=0,319), status imunisasi (p=0,156), status pendidikan ibu (p=0,766), status sosial ekonomi (p=0,125), penggunaan obat nyamuk bakar (p=0,090), kebiasaan mencuci tangan ibu (p=0,412), kualitas air bersih (p=0,083), kepadatan penduduk (p=0,427), jenis lantai (p=0,184) dan jenis dinding (p=0,659) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Jenis kelamin dan kebiasaan merokok di rumah merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif harus difokuskan pada penguatan promosi rumah bebas asap rokok melalui pendidikan bagi orang tua dan anggota keluarga, terutama mereka yang memiliki balita.</p>2026-07-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sherly Febria Utami, Aria Gusti, Ratno Widoyohttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/688Analisis Spasio Temporal Kejadian Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) Berdasarkan Aspek Hewan dan Lingkungan di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2021-20252026-07-11T01:03:52+00:00Shepty Aghraliasheptyaghralia@gmail.comAria Gustiariagusti@ph.unand.ac.idRandy Novirsaariagusti@ph.unand.ac.id<p>Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) merupakan ancaman zoonosis serius yang menunjukkan tren peningkatan signifikan di Provinsi Sumatera Barat dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehahatan Provinsi mencatat kejadian GHPR dari 3.473 kejadian (2021) menjadi 9.091 kejadian (2025). Penelitian bertujuan menganalisis pola spasio-temporal kejadian GHPR berdasarkan faktor hewan dan lingkungan di Sumatera Barat tahun 2021-2025 dengan desain studi ekologi menggunakan data agregat dari 19 kabupaten/kota yang dianalisis secara univariat, bivariat ( korelasi Spearman), multivariat (regresi negatif binomial) serta analisis klaster spasio-temporal menggunakan <em>Space-Time Scan Statistic</em> (SaTScan) dan QGIS. Hasil menunjukkan kepadatan hewan penular rabies (HPR) (rho=0,412, p<0,001) dan jumlah gigitan HPR (anjing) (rho=0,212, p=0,039) berhubungan signifikan dengan <em>incident rate</em> GHPR. Analisis multivariat mengidentifikasi jumlah gigitan HPR (anjing) (IRR=1,005, p<0,001) dan suhu udara (IRR=1,178, p=0,030) sebagai determinan utama. Analisis klaster ruang dan waktu didapatkan hasil klaster utama berada di wilayah tengah (Solok, Tanah Datar, Sijunjung, Kota Solok, Sawahlunto, and Padang Panjang) Sumatera Barat pada Juli 2023-Desember 2025 (RR=2,1). Pemetaan klaster ruang dan waktu berbasis risiko dapat mendukung sistem peringatan dini yang lebih tepat sasaran menuju Indonesia Bebas Rabies 2030.</p>2026-07-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Shepty Aghralia, Aria Gusti, Randy Novirsa