https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/issue/feedJurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan2026-10-09T01:24:02+00:00Editor in chiefeic.jk3l@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) adalah Jurnal ilmiah yang didirikan dan dikelola oleh Bagian Keselamatan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3/Kesling), Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas sejak tahun 2020. Jurnal JK3L terbit 3 (tiga) kali dalam setahun pada bulan April , Agustus dan Desember (<a href="https://issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1489655469&1&&">e-ISSN: 2776-4133</a>) dan telah terakreditasi <strong>SINTA 3</strong> sejak volume 05 No. 2 sesuai SK Kemendikburistek Nomor 295/C/C3/KPT/2026.</p> <p>Sesuai namanya, Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (JK3L) menerima naskah dalam tema umum :</p> <ol> <li>Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)</li> <li>Kesehatan Lingkungan</li> <li>Epidemiologi Lingkungan</li> <li>Epidemiologi Kesehatan Kerja</li> </ol> <p>Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi redaksi jurnal via email ke:</p> <p><strong>editor.jk3l@gmail.com</strong></p>https://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/779Efektivitas Workplace Stretching Exercise terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekerja Weaving2026-09-07T02:19:26+00:00Ulfa Nurullitaulfa@unimus.ac.idW Muhammad Surya Putrasoeryapoetra2002@gmail.comWahyu Handoyowahyu_ob@yahoo.co.id<p><em>Musculoskeletal Disorders</em> (MSDs) merupakan masalah kesehatan kerja yang sering terjadi akibat postur statis, gerakan repetitif, dan tuntutan fisik, salah satunya dialami oleh pekerja weaving di industri tekstil. <em>Workplace Stretching Exercise</em> (WSE) merupakan intervensi sederhana dan aplikatif untuk membantu mengurangi keluhan MSDs. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh WSE terhadap keluhan MSDs pada pekerja weaving di industri tekstil. Desain penelitian ini adalah kuasi-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest pada 58 pekerja weaving. Keluhan MSDs diukur menggunakan Cornell Musculoskeletal Discomfort Questionnaire (CMDQ) sebelum dan sesudah intervensi. WSE dilakukan selama 8–10 menit, satu kali sehari selama lima hari berturut-turut, dan terdiri dari 24 gerakan peregangan pada leher, bahu, lengan, tangan, punggung, dan kaki. Perbedaan skor MSDs dianalisis menggunakan paired t-test dengan tingkat signifikansi 5%. Rata-rata skor keluhan MSDs menurun dari 88,026 ± 19,590 sebelum intervensi menjadi 45,328 ± 11,570 setelah intervensi, dengan penurunan sebesar 42,698 poin (48,5%). Proporsi keluhan kategori sangat tinggi menurun dari 51,7% menjadi 0%, sedangkan kategori rendah meningkat menjadi 70,7%. Nilai p paired t-test adalah 0,000 sehingga terdapat perbedaan bermakna pada skor MSDs sebelum dan sesudah intervensi. WSE secara signifikan menurunkan keluhan MSDs pada pekerja weaving dan berpotensi menjadi intervensi ergonomi yang sederhana, singkat, dan mudah diterapkan.</p>2026-09-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Ulfa Nurullita, W Muhammad Surya Putra, Wahyu Handoyohttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/784Musculoskeletal Disorders among Nypa Handicraft Workers in Cottage Industries: A Cross-Sectional Study in South Sumatra2026-09-24T01:01:41+00:00Maksuk Maksukmaksuk@poltekkespalembang.ac.idIntan Kumalasariintan@poltekkespalembang.ac.idHendawati Hendawatihendawati@poltekkespalembang.ac.idMaya Sopiantimaya@poltekkespalembang.ac.id<p>Musculoskeletal disorders (MSDs) represent a major occupational health concern among informal workers, particularly traditional Nypa palm handicraft workers who are frequently exposed to repetitive movements and prolonged non-ergonomic working postures. This study aimed to investigate the association between ergonomic and workplace environmental factors and MSDs severity levels among Nypa handicraft workers in traditional home-based industries. An analytical cross-sectional study was conducted among 150 Nypa handicraft workers in Palembang, South Sumatra, Indonesia. MSDs severity was assessed using the Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ)/Nordic Body Map (NBM), while work-related factors included working posture, repetitive hand movements, daily working hours, employment duration, and workload. Workplace environmental conditions, including temperature, relative humidity, and illumination, were measured using a thermohygrometer and lux meter. Data were analyzed using chi-square tests and multivariable logistic regression.The results showed that 65.3% of workers experienced mild MSDs and 34.7% experienced moderate MSDs, with the lower back, shoulders, neck, and wrists being the most frequently affected body regions. Bivariate analysis indicated that high-risk working posture was significantly associated with higher MSDs severity levels (OR=2.642; 95% CI: 1.260–5.539; p=0.009). Furthermore, abnormal BMI was associated with MSDs severity levels (p=0.016). The findings indicate that non-ergonomic working posture was an important occupational factor associated with MSDs severity among traditional Nypa handicraft workers. Ergonomic interventions, including improved working posture, workstation redesign, adequate rest periods, and workplace environmental management, are recommended to reduce MSDs risk and promote safer working conditions in traditional home-based industries.</p>2026-10-02T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Maksuk Maksuk, Intan Kumalasari, Hendawati Hendawati, Maya Sopiantihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/785Analisis Bakteriologi Pada Air Minum di Depot Air Minum Isi Ulang Kota Tasikmalaya2026-09-16T08:15:30+00:00Andik Setiyonoandiksetiyono@unsil.ac.idMuhamad Fajar Maulidi Tanjungandiksetiyono@unsil.ac.idDarwin Safiuandiksetiyono@unsil.ac.idBella Kusuma Dewibellakusumadewi@unsil.ac.idNidya Elpara Dikaandiksetiyono@unsil.ac.idMuhammad Defrian Muldaniandiksetiyono@unsil.ac.id<p>Ketersediaan air minum aman merupakan prioritas <em>Sustainable Development Goals</em> (SDGs) tujuan ke-6, namun kontaminasi mikrobiologis pada Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) masih menjadi masalah di Kota Tasikmalaya. Penelitian kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em> ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara higiene sanitasi dan kualitas bakteriologis (<em>E. coli</em> dan <em>total coliform</em>) pada DAMIU di Kota Tasikmalaya. Pengambilan sampel dilakukan dengan <em>total sampling</em> sebanyak 88 DAMIU di Kecamatan Cibeureum dan Tamansari. Data diperoleh melalui observasi, kuesioner Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), dan uji laboratorium metode <em>Colony Forming Unit</em> (CFU), kemudian dianalisis dengan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil penelitian menunjukkan 53,4% DAMIU memenuhi syarat higiene sanitasi (hasil uji lab = 0/100 mL/CFU) menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan, sedangkan sampel terkontaminasi <em>E. coli</em> sebesar 19,3% dan <em>total coliform</em> sebesar 39,8% (hasil uji lab > 0/100 mL/CFU). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara higiene sanitasi dan keberadaan <em>E. coli</em> (p=0,053). Namun, terdapat hubungan yang signifikan dengan <em>total coliform</em> (p=0,000; OR=5,781), di mana sanitasi buruk meningkatkan risiko kontaminasi sebanyak 5,781 kali lipat. Faktor lain yang berhubungan secara signifikan adalah sumber air baku yang tidak terlindung (<em>E. coli</em> p=0,009; <em>total coliform</em> p=0,045), ketiadaan sertifikat/nota air baku (<em>E. coli</em> p=0,023), serta masa pemakaian lampu UV >9.000 jam (<em>total coliform</em> p=0,015). Sebaliknya, metode disinfeksi tidak berhubungan secara signifikan. Disarankan adanya peningkatan pengawasan berkala dan pembinaan terhadap pengelola DAMIU oleh instansi terkait.</p>2026-10-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Andik Setiyono, Muhamad Fajar Maulidi Tanjung, Darwin Safiu, Bella Kusuma Dewi, Nidya Elpara Dika, Muhammad Defrian Muldanihttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/790Association of Sleep Duration and Sleep Quality With Metabolic Markers Among Construction Workers: A Cross-Sectional Study 2026-09-25T01:45:03+00:00Edward Timothy Setioedward.timothy.setio-2024@fk.unair.ac.idJames Dendyjames.dendy-2024@fk.unair.ac.idMuhammad Iqbal Taufanimuhammad.iqbal.taufani-2024@fk.unair.ac.idAzizah Bonitha Zahrah Santosoazizah.bonitha.zahrah-2024@fk.unair.ac.idJennifer Angelinejennifer.angeline-2024@fk.unair.ac.idLouisa Angielouisaangie05@gmail.comKayleen Eleora Honggoseputrokayleen.eleora.honggoseputro-2024@fk.unair.ac.idNasya Malfa Aqilahcitrawati.dyah@fk.unair.ac.idGaluh Retno Nur Pratiwicitrawati.dyah@fk.unair.ac.idJoyceline Chika Tanelyjoycelinetanely05@gmail.comCitrawati Dyah Kencono Wungucitrawati.dyah@fk.unair.ac.idShafira Meidyanashafirameidyana@fk.unair.ac.id<p>This study evaluates the association between sleep duration, sleep quality, and metabolic markers among construction workers in Sidoarjo Regency, Indonesia. This cross-sectional study enrolled 47 construction workers via consecutive sampling. Sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI); blood glucose and uric acid were measured using EasyTouch GCU, while blood pressure was measured separately. Because most continuous variables were non-normally distributed, we assessed associations using Spearman's rank correlation. Sleep duration was negatively correlated with blood glucose (p=0.028) and positively correlated with uric acid (p=0.015). Supplementary quadratic regression showed no evidence of curvature in the sleep duration–uric acid relationship, and categorical sensitivity analyses (hyperuricemia-based) found consistent but non-significant directions in the Mann-Whitney U test (p=0.072) and logistic regression (p=0.174). Sleep quality was not significantly associated with any metabolic marker (all p>0.05). Sleep duration was consistently associated with metabolic markers in this sample. Sleep duration showed a significant positive correlation with uric acid that was not corroborated by categorical and regression-based sensitivity analyses, and should therefore warrant larger, multi-site samples in future studies.</p>2026-10-10T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Edward Timothy Setio, James Dendy, Muhammad Iqbal Taufani, Azizah Bonitha Zahrah Santoso, Jennifer Angeline, Louisa Angie, Kayleen Eleora Honggoseputro, Nasya Malfa Aqilah, Galuh Retno Nur Pratiwi, Joyceline Chika Tanely, Citrawati Dyah Kencono Wungu, Shafira Meidyanahttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/807Tren Penelitian Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Perawat di Indonesia Tahun 2015–Maret 2026: Scoping Review2026-10-09T01:24:02+00:00Natasya Olga Laurentinanatasyalaurentina.23@upi.eduHikmat Pramajatinatasyalaurentina.23@upi.eduNunung Siti Sukaesihnatasyalaurentina.23@upi.edu<p>Penelitian mengenai perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada perawat di Indonesia masih tersebar menurut domain perilaku, jenis bahaya, setting, dan pendekatan metodologis. Penelitian ini bertujuan memetakan bukti penelitian perilaku K3 pada perawat di Indonesia yang dipublikasikan pada Januari 2015–Maret 2026. Scoping review dilakukan berdasarkan JBI Manual for Evidence Synthesis dan dilaporkan mengikuti PRISMA-ScR. Pencarian dilakukan pada PubMed, Scopus, Google Scholar, Garuda, dan SINTA menggunakan kerangka Population–Concept–Context. Sebanyak 72 studi unik memenuhi kriteria dan menjadi denominator analisis. Publikasi didominasi oleh studi tahun 2021–2025 (52; 72,2%) dan setting rumah sakit (61; 84,7%). Domain yang paling sering dikaji adalah kepatuhan SOP (56; 77,8%), sedangkan bahaya biologis ditemukan pada 67 studi (93,1%). Desain cross-sectional (50; 69,4%) dan kuesioner atau metode self-report (60; 83,3%) mendominasi pendekatan metodologis. Enam kesenjangan penelitian teridentifikasi pada aspek konsep, konteks, bahaya, metodologi, pengukuran, dan teori. Sintesis melalui lensa Systems Thinking–Just Culture–Resilience menyoroti perlunya memperkuat pendekatan sistem, budaya pelaporan yang adil, dan kapasitas adaptasi keselamatan, melampaui orientasi pada kepatuhan individual.</p>2026-10-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Natasya Olga Laurentina, Hikmat Pramajati, Nunung Siti Sukaesihhttps://jk3l.fkm.unand.ac.id/index.php/jk3l/article/view/802Analysis of Workplace Accident Prevention Implementation For Firefighters2026-10-02T08:49:25+00:00Machranda Machrandamachranda292@gmail.comFitriyani Fitriyanifitriyani@ph.unand.ac.idSeptia Pristi Rahmahseptiapristirahmah@ph.unand.ac.idNovia Wirna Putrinoviawirnaputri@ph.unand.ac.id<p>Firefighters face occupational hazards during firefighting and rescue operations. At the Padang City Fire Department, workplace accidents occur annually, while only half of the personnel have completed certified rescue and firefighting training. This study examined the department's accident-prevention practices in 2024. A descriptive qualitative study involving 12 purposively selected informants. Data were collected through interviews, observations, and document reviews, with source and method triangulation and framework analysis. The study used ANSI Z10-guided hazard identification and assessed prevention measures using the hierarchy of controls, including engineering controls, administrative controls, and personal protective equipment (PPE). Findings revealed critical safety and operational deficiencies. Fire trucks lacked built-in ladders, requiring manual ladders during operations. An insufficient fleet forced firefighters to ride on the back of trucks, exposing them to falls during high-speed travel. Inadequate PPE contributed to incidents involving venomous animal bites during rescue missions. Firefighters also used motorcycle helmets during firefighting, and self-contained breathing apparatus (SCBA) units were insufficient. These findings highlight the need to provide complete, appropriate PPE and address vehicle and equipment deficiencies to strengthen accident prevention.</p>2026-10-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Machranda Machranda, Fitriyani Fitriyani, Septia Pristi Rahmah, Novia Wirna Putri